EMOSI
Makalah Ini Dibuat
Untuk Memenuhii Salah Satu Nilai Mata Kuliah Pengetahuan Lintas Budaya
Oleh:
Kelompok 12
Ayu Safitria
Friansyah
Friansyah
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA
INDONESIA
UNIVERSITAS PAMULANG
2012
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga
kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang tepat pada waktunya dengan judul Emosi.
Kami
menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami
meminta kritikan dan saran dari pembaca agar kami dapat menyempurnakan kembali
makalah ini.
Akhir
kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusuna makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhoi segala usaha kita.
Tangerang,
28 Februari 2012
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Kebudayaan adalah pandangan hidup dari sekelompok
orang dalam bentuk prilaku, kepercayaan, nilai, dan symbol-simbol yang mereka
terima tanpa sadar yang semuanya diwariskan melalui proses komunikasi dan
peniruan dari satu generasi ke generasi berikutnya.[1]
Pentingnya
emosi dalam kehidupan dan perilaku manusia diakui secara luas dalam psikologi. Emosi memberi
warna pada hidup, menjadikannya penuh makna. Pengalaman emosional juga dapat menjadi motivator penting
perilaku. Ekspresi emosi juga penting dalam komunikasi dan memainkan peran penting
dalam interaksi sosial.[2]
Setiap manusia memiliki emosi, memberinya identitas dan
sepertinya harus belajar beradaptasi serta mengontrol emosinya. Mengkaitkan
emosi dengan individu adalah berbicara mengenai variasi setiap orang. Bagaimana
kita mendefinisikan emosi, seberapa penting kita memandangnya, bagaimana kita
mengelolanya, merasakannya, menerimanya dan mengekspresikannya, setiap orang
adalah berbeda dan unik. Berbicara mengenai individu manusia tentu tidak lepas dari konteks
budaya dalam hidupnya. Bagaimana pun keduanya adalah saling mempengaruhi.
Begitupun kaitannya dengan emosi, setiap budaya adalah unik dan berbeda dalam
bagaimana budaya tersebut memberi arti, melihat, mengelola, dan mengekspresikan
emosinya. Oleh karena itu kita perlu mengetahui bagaimanakah perbedaan ataupun
persamaan setiap budaya dalam konsep emosinya.
1.2.
Tujuan
1.2.1.
Tujuan Umum
Tujuan yang ingin
dicapai terutama bagi pembaca, makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dan
memberikan pengatahuan sekaligus memberi masukan tentang emosi seseorang. Dan dengan harapan
kepada pembaca setelah membacanya agar dapat menerapkannya dan mempelajari dalam kehidupan
sehari-hari.
1.2.2.
Tujuan Khusus
Tujuan yang ingin
dicapai penulis untuk memahami dan dapat memberi penjelasan kepada mahasiswa tentang makalah ini dan mempertanggung
jawabkannya pada persentasi. Dan memenuhi salah satu nilai mata kuliah
Pengetahuan Lintas Budaya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Emosi
Konsep emosi adalah sesuatu yang khas untuk budaya-budaya
tertentu saja. Seperti saya misalnya dulu saya mengatakan bahwa orang
Jawa itu keras dan hemat, tetapi kenyataan yang saya alami, ayah saya orang
Jawa dan dia sangat lembut bahkan orangnya sangat royal sekali. Pada
umumnya sifat orang Jawa sendiri ialah pekerja keras, rajin dan ramah. [3]
Emosi adalah perasaan
intens yang di tunjukan kepada seseorang atau sesuatu,emosi adalah reaksi
terhadap seseorang atau kejadian,emosi dapat ditunjukan ketika merasa senang
mengenai sesuatu marah kepada seseorang ataupun takut terhadap sesuatu.kata
emosi dari kata bahasa perancis emotion, dari emouvoir, kegembiraan dari bahasa
latin emovere, dari
e-(varian eks-) luar dan movere bergerak, kebanyakan ahli yakin bahwa emosi lebih
cepat berlalu dari pada suasana hati, sebagai contoh bila seseorang bersikap
kasar, manusia
akan merasa marah, perasaan
intens kemarahan tersebut mungkin datang
dan pergi dengan cukup cepat tetapi ketika dalam suasana hati yang buruk, seseorang dapat merasa
tidak cukup baik, orang-orang
cenderung merasa bahagia ketika system
limbic mereka secara relatif
tidak aktif, system
limbic orang tidaklah sama,
system
limbic yang lebih aktif terdapat pada orang-orang yang depresi, kususnya ketika mereka
memperoleh informasi yang negatif.
Pengertian emosi itu sendiri adalah keadaan internal yang memiliki manifestasi
eksternal. Meskipun yang bisa merasakan emosi hanyalah yang mengalaminya, namun
orang lain kerap bisa mengetahuinya karena emosi diekspresikan dalam berbagai
bentuk. Emosi diekspresikan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Ekspresi
verbal misalnya menulis dalam kata-kata, berbicara tentang emosi yang dialami,
dan lainnya. Ekspresi nonverbal misalnya perubahan ekspresi wajah, ekspresi
vokal atau (nada suara dan urutan pengucapan), perubahan fisiologis, gerak dan
isyarat tubuh, dan tindakan-tindakan emosional.
Adapun beberapa teori umum, yaitu:
- Teori Thomkins, menyatakan bahwa emosi bersifat
adaptif secara evousioner dan bahwa ekspresinya merupakan bawaan biologis
dan bersifat universal pada semua orang di budaya manapun.
- Teori Ekman (1972) dan Izard (1971), menyatakan
bahwa setidaknya terdapat enam ekspresi wajah emosi yang pankultural atau
universal, seperti marah, jijik, takut, sedih, dan terkejut.
2.2. Ekspresi
Emosi
Penelitian Lintas Budaya tentang ekspresi
emosi pada umumnya terfokus pada ekspresi wajah. Meski keuniversalan beberapa
ekspresi wajah emosi kini telah mapan diterima dalam psikologi, banyak ilmuwan
social dan orang awam yang sudah lama mengetahui bahwa orang dari budaya yang
berbeda mungkin saja dan memang, berbeda dalam ekspresi emosi meraka.[4]
Ekspresi wajah. Mengapa Anda bisa tahu seseorang sedang
bahagia atau sedih? Sebab emosi bahagia dan sedih itu diekspresikan melalui
raut wajah. Hanya dengan melihat wajah seseorang, Anda sering tepat menebak
emosi yang dialami orang itu. Anda tahu wajah seseorang yang sedang marah,
sedih, bahagia, takut atau terkejut. Pasti berbeda wajah ditunjukkan pada saat
marah dan pada saat sedih.
Ekspresi vokal. Biasanya nada suara vokal seseorang akan
berubah mengiringi emosi yang dialami. Seseorang yang marah nada suaranya akan
meninggi. Mereka yang bahagia akan lepas dan lancar. Sedangkan mereka yang
sedih mungkin terbata-bata. Tidak jarang kita tahu emosi yang dialami seseorang
hanya dari nada suaranya saja.
Perubahan fisiologis. Saat Anda merasakan emosi terdapat
perubahan fisiologis yang mengiringi baik yang bisa Anda rasakan maupun tidak.
Pada saat takut, Anda mungkin merasakan detak jantung meningkat,
berdebar-debar, kaki dan tangan gemetar, bulu kuduk merinding, otot wajah
menegang, berkeringat, kencing di celana, dan sebagainya. Perubahan-perubahan
itu tidak jarang juga diketahui orang lain.
Gerak
dan isyarat tubuh. Begitulah, emosi diekspresikan dalam gerak dan isyarat
tubuh. Kita kadang cukup tahu seseorang sedang gugup atau jatuh cinta hanya
dari bahasa tubuhnya. Seseorang yang gugup menjadi tidak hati-hati, banyak
melakukan gerakan tidak perlu, sering melakukan kesalahan, berkeringat dan
semacamnya. Orang yang jatuh cinta menatap yang dicintai lebih sering, duduk
condong padanya, tersenyum lebih lebar dan lainnya.
Tindakan-tindakan emosional. Pada saat mengalami emosi,
kadang seseorang hanya diam saja. Tapi, diam pun adalah tindakan yang mencerminkan
keadaan emosional. Beberapa tindakan emosional lain misalnya saat takut
meringkuk di bawah meja, saat sedih menangis, saat marah membanting gelas, saat
kecewa menyalahkan orang lain, saat tersinggung memaki, dan lainnya.
Dengan demikian, meskipun ekspresi wajah universal itu
secara biologis bersifat bawaan sebagai protitipe raut wajah pada semua orang,
budaya punya pengaruh besar pada ekspresi emosi lewat aturan-aturan
pengungkapan yang dipelajari secara kultural. Karena kebanyakan interaksi antar
manusia pada hakekatnya bersifat social, kita harus memahami bahwa perbedaan
kultural dalam aturn pengungkapan ini berlaku dalam kebanyakan, atau bahkan
setiap kesempatan. Orang-orang dari latar belakang berbeda dapat, dan memang,
megekspresikan emosi secara berbeda.[5]
Jadi budaya besar pengaruhnya terhadap
ekspresi emosi seseorang, seperti tadi yang dicontohkan pada dasarnya orang
Jawa sangat lembut tutur katanya tetapi saat dia marah dapat sangat keras
sekali dan tegas sekali. Hal tersebut pengungkapan kultural dari budayanya,
berbeda dengan ibu saya dengan budaya Sunda yang pada saat marah atau ekspresi
apapun tetap lembut karna memang budayanya menampilkan emosi negatif dianggap
sebagai sesuatu yang kurang benar secara
kultural. Hal ini menunjukan perbedaan etnis dalam aturan pengungkapan yang
memang sudah ada pada budayanya masing-masing
Sedangkan cerita menurut salah satu teman
saya yang memiliki keturunan Betawi, bahwa ayah dan ibunya yang merupakan orang
asli Betawi sekarang sudah tidak nampak ciri khas Betawinya terlebih dari segi
bahasanya. Meraka cenderung berbahasa Indonesia lazim biasanya dan begitu saja
menghilangan logat Betawinya karna mereka tinggal di Tanggerang yang berbaur
dengan kebanyakan orang Sunda dan Jawa. Berbeda dengan kakek dan neneknya yang
tinggal di Jakarta, sama sekali tidak berubah pola berbahasanya yang khas
sekali orang Betawi. Hal tersebut dapat ditarik kesimpulan pula bahwa
tingakatan emosi seseorang, cara berbahasa seseorang sangat dipengaruhi oleh
ligkungannya.
2.3. Pandangan
Emosi
Ada dua hal
daalam pandangan emosi, yang
pertama adalah pengalaman emosi yakni kondisi subjektif,perasaan dalam diri
kita.yang kedua ekspresi kita atas emosi melalui suara, wajah, bahasa atau sikap
tubuh. Sebagian ahli
menyebutkan bahwa emosi sebenarnya terdiri dari sedikit emosi dasar saja, selebihnya adalah
perpaduan antara emosi-emosi dasar itu.
Seorang ahli psikologi menunjukan bahwa manusia
memiliki 6 emosi dasar yaitu
takut, marah, sedih, bahagia, jijik dan terkejut. Emosi dasar itu dipercaya
dimiliki oleh semua manusia dari budaya manapun juga. Selain membedakan emosi
berdasarkan emosi dasar atau perimer dan emosi turunan atau sekunder, emosi juga dapat di
bedakan satu sama lain dengan kategori tertentu istilahnya adalah peta emosi, salah satu
pengategorian emosi yang cukup bermanfaat adalah dengan membedakan emosi
berdasarkan scenario kognitif yang dimiliki seseorang terhadap emosi yang
dialami. Misalnya
dibedakan berdasarkan kejadian-kejadian yang menyebabkan emosi, berdasarkan nilai
negatif dan positif, berdasarkan kedekatan
makna antara kata-kata emosi.
Pembagian emosi
berdasarkan nilai positif dan negative. Emosi bisa dibedakan dalam nilai positif
dan negatif. Diantara keduanya
terdapat nilai netral. Emosi
netral adalah kategori emosi yang tidak dapat di golongkan posisinya, terkadang bisa sebagian
emosi positif bisa juga sebagai emosi negative. Seperti misalnya terkejut dan heran. Emosi positif berperan
dalam munculnya kesejahteraan emosional dan memfasilitasi dalam pengaturan emosi
negatif. Emosi yang bernilai
positif diantaranya adalah sayang, suka, bahagia, gembira, senang dan lain-lain. Emosi negatif menghasilkan permasalahan yang
mengganggu individu maupun masyarakat. Biasanya, orang menekankan pada
emosi yang negatif, lebih cenderung untuk
memperhatikan emosi-emosi yang bernilai buruk atau negatif. Misalnya sedih, marah, cemas, tersinggung, bencitakut, curiga dan lain sebagainya.[6]
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setiap manusia memiliki emosi, memberinya identitas dan
sepertinya harus belajar beradaptasi serta mengontrol emosinya. Mengkaitkan
emosi dengan individu adalah berbicara mengenai variasi setiap orang. Bagaimana
kita mendefinisikan emosi, seberapa penting kita memandangnya, bagaimana kita
mengelolanya, merasakannya, menerimanya dan mengekspresikannya, setiap orang
adalah berbeda dan unik. Berbicara mengenai individu manusia tentu tidak lepas dari konteks
budaya dalam hidupnya.
B. Saran
Saran untuk mahasiswa agar dapat lebih memahami isi
dari makalah ini, dan dijadikan informasi atau ilmu yang sangat bermanfaat
sekali. Sedangkan untuk dosen pembimbing mata kuliah ini agar dapat menjelaskan
kembali materi emosi ini karena bahwasanya kami anggota kelompok sangat kurang
sekali memahaminya.
DAFTAR ISI
Liliweri, Ali, Makna
Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2002).
Matsumoto, David Pengantar
Psikologi Lintas Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994).
Sumber Internet
Nasrulchair.wordpress.com/tag/emosi/,www.bappedajakarta.go.id,
[1] Ali Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi
Antarbudaya, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2002), h.8
ijin nyomot materinya . . .
BalasHapustri joko sastra indonesia 2012070079