Minggu, 04 Maret 2012

EMOSI


EMOSI

Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhii Salah Satu Nilai Mata Kuliah Pengetahuan Lintas Budaya



Oleh:
Kelompok 12
Ayu Safitria
Friansyah




FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PAMULANG
2012



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang tepat pada waktunya dengan judul Emosi.
            Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami meminta kritikan dan saran dari pembaca agar kami dapat menyempurnakan kembali makalah ini.
            Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusuna makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita.

                                                                        Tangerang, 28 Februari 2012

                                                                                         Penulis






BAB I
PENDAHULUAN


1.1.  Latar Belakang
Kebudayaan adalah pandangan hidup dari sekelompok orang dalam bentuk prilaku, kepercayaan, nilai, dan symbol-simbol yang mereka terima tanpa sadar yang semuanya diwariskan melalui proses komunikasi dan peniruan dari satu generasi ke generasi berikutnya.[1]
Pentingnya emosi dalam kehidupan dan perilaku manusia diakui secara luas dalam psikologi. Emosi memberi warna pada hidup, menjadikannya penuh makna. Pengalaman emosional juga dapat menjadi motivator penting perilaku. Ekspresi emosi juga penting dalam komunikasi dan memainkan peran penting dalam interaksi sosial.[2]
Setiap manusia memiliki emosi, memberinya identitas dan sepertinya harus belajar beradaptasi serta mengontrol emosinya. Mengkaitkan emosi dengan individu adalah berbicara mengenai variasi setiap orang. Bagaimana kita mendefinisikan emosi, seberapa penting kita memandangnya, bagaimana kita mengelolanya, merasakannya, menerimanya dan mengekspresikannya, setiap orang adalah berbeda dan unik. Berbicara mengenai individu manusia tentu tidak lepas dari konteks budaya dalam hidupnya. Bagaimana pun keduanya adalah saling mempengaruhi. Begitupun kaitannya dengan emosi, setiap budaya adalah unik dan berbeda dalam bagaimana budaya tersebut memberi arti, melihat, mengelola, dan mengekspresikan emosinya. Oleh karena itu kita perlu mengetahui bagaimanakah perbedaan ataupun persamaan setiap budaya dalam konsep emosinya.

1.2.  Tujuan
     1.2.1. Tujuan Umum
          Tujuan yang ingin dicapai terutama bagi pembaca, makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dan memberikan pengatahuan sekaligus memberi masukan tentang emosi seseorang. Dan dengan harapan kepada pembaca setelah membacanya agar dapat menerapkannya dan mempelajari dalam kehidupan sehari-hari.
     1.2.2. Tujuan Khusus
          Tujuan yang ingin dicapai penulis untuk memahami dan dapat memberi penjelasan kepada mahasiswa tentang makalah ini dan mempertanggung jawabkannya pada persentasi. Dan memenuhi salah satu nilai mata kuliah Pengetahuan Lintas Budaya.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Emosi
Konsep emosi adalah sesuatu yang khas untuk budaya-budaya tertentu saja.  Seperti saya misalnya dulu saya mengatakan bahwa orang Jawa itu keras dan hemat, tetapi kenyataan yang saya alami, ayah saya orang Jawa dan dia sangat lembut bahkan orangnya sangat royal sekali. Pada umumnya sifat orang Jawa sendiri ialah pekerja keras, rajin dan ramah. [3]
Emosi adalah perasaan intens yang di tunjukan kepada seseorang atau sesuatu,emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian,emosi dapat ditunjukan ketika merasa senang mengenai sesuatu marah kepada seseorang ataupun takut terhadap sesuatu.kata emosi dari kata bahasa perancis emotion, dari emouvoir, kegembiraan dari bahasa latin emovere, dari e-(varian eks-) luar dan movere bergerak, kebanyakan ahli yakin bahwa emosi lebih cepat berlalu dari pada suasana hati, sebagai contoh bila seseorang bersikap kasar, manusia akan merasa marah, perasaan intens kemarahan tersebut mungkin datang dan pergi dengan cukup cepat tetapi ketika dalam suasana hati yang buruk, seseorang dapat merasa tidak cukup baik, orang-orang cenderung merasa bahagia  ketika system limbic mereka secara relatif tidak aktif, system limbic orang tidaklah sama, system limbic yang lebih aktif terdapat pada orang-orang yang depresi, kususnya ketika mereka memperoleh informasi yang negatif.

Pengertian emosi itu sendiri adalah  keadaan internal yang memiliki manifestasi eksternal. Meskipun yang bisa merasakan emosi hanyalah yang mengalaminya, namun orang lain kerap bisa mengetahuinya karena emosi diekspresikan dalam berbagai bentuk. Emosi diekspresikan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Ekspresi verbal misalnya menulis dalam kata-kata, berbicara tentang emosi yang dialami, dan lainnya. Ekspresi nonverbal misalnya perubahan ekspresi wajah, ekspresi vokal atau (nada suara dan urutan pengucapan), perubahan fisiologis, gerak dan isyarat tubuh, dan tindakan-tindakan emosional.

Adapun beberapa teori umum, yaitu:
  1. Teori Thomkins, menyatakan bahwa emosi bersifat adaptif secara evousioner dan bahwa ekspresinya merupakan bawaan biologis dan bersifat universal pada semua orang di budaya manapun.
  2. Teori Ekman (1972) dan Izard (1971), menyatakan bahwa setidaknya terdapat enam ekspresi wajah emosi yang pankultural atau universal, seperti marah, jijik, takut, sedih, dan terkejut.

2.2. Ekspresi Emosi

      Penelitian Lintas Budaya tentang ekspresi emosi pada umumnya terfokus pada ekspresi wajah. Meski keuniversalan beberapa ekspresi wajah emosi kini telah mapan diterima dalam psikologi, banyak ilmuwan social dan orang awam yang sudah lama mengetahui bahwa orang dari budaya yang berbeda mungkin saja dan memang, berbeda dalam ekspresi emosi meraka.[4]
     
Ekspresi wajah. Mengapa Anda bisa tahu seseorang sedang bahagia atau sedih? Sebab emosi bahagia dan sedih itu diekspresikan melalui raut wajah. Hanya dengan melihat wajah seseorang, Anda sering tepat menebak emosi yang dialami orang itu. Anda tahu wajah seseorang yang sedang marah, sedih, bahagia, takut atau terkejut. Pasti berbeda wajah ditunjukkan pada saat marah dan pada saat sedih.
Ekspresi vokal. Biasanya nada suara vokal seseorang akan berubah mengiringi emosi yang dialami. Seseorang yang marah nada suaranya akan meninggi. Mereka yang bahagia akan lepas dan lancar. Sedangkan mereka yang sedih mungkin terbata-bata. Tidak jarang kita tahu emosi yang dialami seseorang hanya dari nada suaranya saja.
Perubahan fisiologis. Saat Anda merasakan emosi terdapat perubahan fisiologis yang mengiringi baik yang bisa Anda rasakan maupun tidak. Pada saat takut, Anda mungkin merasakan detak jantung meningkat, berdebar-debar, kaki dan tangan gemetar, bulu kuduk merinding, otot wajah menegang, berkeringat, kencing di celana, dan sebagainya. Perubahan-perubahan itu tidak jarang juga diketahui orang lain.
            Gerak dan isyarat tubuh. Begitulah, emosi diekspresikan dalam gerak dan isyarat tubuh. Kita kadang cukup tahu seseorang sedang gugup atau jatuh cinta hanya dari bahasa tubuhnya. Seseorang yang gugup menjadi tidak hati-hati, banyak melakukan gerakan tidak perlu, sering melakukan kesalahan, berkeringat dan semacamnya. Orang yang jatuh cinta menatap yang dicintai lebih sering, duduk condong padanya, tersenyum lebih lebar dan lainnya.
Tindakan-tindakan emosional. Pada saat mengalami emosi, kadang seseorang hanya diam saja. Tapi, diam pun adalah tindakan yang mencerminkan keadaan emosional. Beberapa tindakan emosional lain misalnya saat takut meringkuk di bawah meja, saat sedih menangis, saat marah membanting gelas, saat kecewa menyalahkan orang lain, saat tersinggung memaki, dan lainnya.

      Dengan demikian, meskipun ekspresi wajah universal itu secara biologis bersifat bawaan sebagai protitipe raut wajah pada semua orang, budaya punya pengaruh besar pada ekspresi emosi lewat aturan-aturan pengungkapan yang dipelajari secara kultural. Karena kebanyakan interaksi antar manusia pada hakekatnya bersifat social, kita harus memahami bahwa perbedaan kultural dalam aturn pengungkapan ini berlaku dalam kebanyakan, atau bahkan setiap kesempatan. Orang-orang dari latar belakang berbeda dapat, dan memang, megekspresikan emosi secara berbeda.[5]

      Jadi budaya besar pengaruhnya terhadap ekspresi emosi seseorang, seperti tadi yang dicontohkan pada dasarnya orang Jawa sangat lembut tutur katanya tetapi saat dia marah dapat sangat keras sekali dan tegas sekali. Hal tersebut pengungkapan kultural dari budayanya, berbeda dengan ibu saya dengan budaya Sunda yang pada saat marah atau ekspresi apapun tetap lembut karna memang budayanya menampilkan emosi negatif dianggap sebagai sesuatu yang  kurang benar secara kultural. Hal ini menunjukan perbedaan etnis dalam aturan pengungkapan yang memang sudah ada pada budayanya masing-masing
      Sedangkan cerita menurut salah satu teman saya yang memiliki keturunan Betawi, bahwa ayah dan ibunya yang merupakan orang asli Betawi sekarang sudah tidak nampak ciri khas Betawinya terlebih dari segi bahasanya. Meraka cenderung berbahasa Indonesia lazim biasanya dan begitu saja menghilangan logat Betawinya karna mereka tinggal di Tanggerang yang berbaur dengan kebanyakan orang Sunda dan Jawa. Berbeda dengan kakek dan neneknya yang tinggal di Jakarta, sama sekali tidak berubah pola berbahasanya yang khas sekali orang Betawi. Hal tersebut dapat ditarik kesimpulan pula bahwa tingakatan emosi seseorang, cara berbahasa seseorang sangat dipengaruhi oleh ligkungannya.

2.3. Pandangan Emosi

Ada dua hal daalam pandangan emosi, yang pertama adalah pengalaman emosi yakni kondisi subjektif,perasaan dalam diri kita.yang kedua ekspresi kita atas emosi melalui suara, wajah, bahasa atau sikap tubuh. Sebagian ahli menyebutkan bahwa emosi sebenarnya terdiri dari sedikit emosi dasar saja, selebihnya adalah perpaduan antara emosi-emosi dasar itu. Seorang ahli psikologi menunjukan bahwa manusia memiliki 6 emosi dasar yaitu takut, marah, sedih, bahagia, jijik dan terkejut. Emosi dasar itu dipercaya dimiliki oleh semua manusia dari budaya manapun juga. Selain membedakan emosi berdasarkan emosi dasar atau perimer dan emosi turunan atau sekunder, emosi juga dapat di bedakan satu sama lain dengan kategori tertentu istilahnya adalah peta emosi, salah satu pengategorian emosi yang cukup bermanfaat adalah dengan membedakan emosi berdasarkan scenario kognitif yang dimiliki seseorang terhadap emosi yang dialami. Misalnya dibedakan berdasarkan kejadian-kejadian yang menyebabkan emosi, berdasarkan nilai negatif dan positif, berdasarkan kedekatan makna antara kata-kata emosi.
Pembagian emosi berdasarkan nilai positif dan negative. Emosi bisa dibedakan dalam nilai positif dan negatif. Diantara keduanya terdapat nilai netral. Emosi netral adalah kategori emosi yang tidak dapat di golongkan posisinya, terkadang bisa sebagian emosi positif bisa juga sebagai emosi negative. Seperti misalnya terkejut dan heran. Emosi positif berperan dalam munculnya kesejahteraan emosional dan memfasilitasi dalam pengaturan emosi negatif. Emosi yang bernilai positif diantaranya adalah sayang, suka, bahagia, gembira, senang dan lain-lain. Emosi negatif menghasilkan permasalahan yang mengganggu individu maupun masyarakat. Biasanya, orang menekankan pada emosi yang negatif, lebih cenderung untuk memperhatikan emosi-emosi yang bernilai buruk atau negatif. Misalnya sedih, marah, cemas, tersinggung, bencitakut, curiga dan lain sebagainya.[6]











BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Setiap manusia memiliki emosi, memberinya identitas dan sepertinya harus belajar beradaptasi serta mengontrol emosinya. Mengkaitkan emosi dengan individu adalah berbicara mengenai variasi setiap orang. Bagaimana kita mendefinisikan emosi, seberapa penting kita memandangnya, bagaimana kita mengelolanya, merasakannya, menerimanya dan mengekspresikannya, setiap orang adalah berbeda dan unik. Berbicara mengenai individu manusia tentu tidak lepas dari konteks budaya dalam hidupnya.
B. Saran
Saran untuk mahasiswa agar dapat lebih memahami isi dari makalah ini, dan dijadikan informasi atau ilmu yang sangat bermanfaat sekali. Sedangkan untuk dosen pembimbing mata kuliah ini agar dapat menjelaskan kembali materi emosi ini karena bahwasanya kami anggota kelompok sangat kurang sekali memahaminya.









DAFTAR ISI

Liliweri, Ali, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2002).
Matsumoto, David Pengantar Psikologi Lintas Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994).

Sumber Internet
Nasrulchair.wordpress.com/tag/emosi/,www.bappedajakarta.go.id,



[1] Ali Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2002), h.8
[2] David Matsumoto, Pengantar Psikologi Lintas Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994), h.177.
[3] http://id.wikipedia.arg/wiki/
[4] Ibid, h. 186.
[5] Ibid, h. 189.
[6] Nasrulchair.wordpress.com/tag/emosi/,www.bappedajakarta.go.id.

1 komentar:

  1. ijin nyomot materinya . . .
    tri joko sastra indonesia 2012070079

    BalasHapus